Perkembangan Islam Periode Klasik

 LATAR BELAKANG

Latar belakang pembuatan makalah ini sebagai tugas semester satu dan juga sebagai bahan presentasi di kelas.Supaya siswa lebih memahami mengenai perkembangan dan penyebaran agama islam periode klasik.Selain itu siswa juga dapat mengetahui akan tokoh tokoh yang sangat berpengaruh dalam penyebaran dan kepemimpinan islam.

 RUMUSAN MASALAH

1. Aspek aspek yang berpengaruh dalam perkembangan islam dari fase ekspansi dan disintegrasi?
2. Mahzab-mahzab yang muncul sebagai dampak dari perkembangan pengetahuan islam.
3. Tokoh tokoh yang berpengaruh dalam kepemimpinan islam.
4. Himah-hikmah yang dapat diambil dari perkembangan islam pada periode klasik.

 PENGERTIAN JUDUL

Perkembangan islam periode klasik (650-1250 M) merupakan suatu tahap dimana agama islam mengalami perkembangan serta perluasan wilayah.Dari sinilah muncul-muncul mahzab yang sangat berpengaruh bagi kaum muslimin dalam bidang pendidikan,politik,sosial budaya dan masih sangat luas lagi cakupannya dalam bidang iptek.

 TUJUAN PENULISAN

1. Memperluas pengetahuan siswa akan agama islam dimasa lalu.
2. Menjadikan dasar islam sebagai landasan hidup.
3. Mengenali tokoh-tokoh penyebar islam.
4. Mengambil hikmah dari proses perkembangan islam.

A. PERKEMBANGAN ISLAM PADA PERIODE KLASIK

1. Fase Ekspansi
Dalam fase ekspansi ini kehadiran telah cukup banyak mendapat perhatian dan telah para pemikir dan sejarawan dari berbagai kalangan. Berbagai pendapat dan teori yang membincang persoalan tersebut membuktikan bahwa tema Islam memang menarik untuk dikaji terlebih dinegeri yang dikenal mayoritas penduduknya muslim. Maka tak berlebihan studi mengenai latar historis dan proses perkembangan selanjutnya dari agama ini sehingga beroleh tempat dan mampu mengikat begitu banyak pengikut di wilayah ini. Cukup punya nilai guna memahami dan memaknai lebih dalam dinamika keberagamaan Islam dalam konteks kontemporer di Indonesia.

Lokus diskusi mengenai kedatangan Islam di Indonesia Sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni : tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah dimensi proses dari interaksi awal dan lanjutan antara Islam dan penduduk lokal dan berikut konstruk kepercayaan atau agama yang telah ada sebelumnya.

Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, dikalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansyur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar : Pertama, teori Gujarat. Islam dipercaya datang dari Gujarat-India melalui peran para pedagang India Muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab Muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke13 M.

Teori tersebut jika ditelaah lebih jauh lagi sesungguhnya memiliki variasi pendapat yang cukup beragam. Terkait teori yang menyatakan bahwa Islam di Indonesia berasal dari anak benua India, misalnya, ternyata sejarawan tidak satu kata mengenai wilayah Gujarat. Pendapat Pijnappel yang juga disokong oleh C. Snouck Hurgronje, J.P Moquette, E.O. Winstedt, B.J.O Schrieke, dan lain-lainnya tersebut ternyata berbeda dengan yang dikemukakan oleh S.Q Fatimi dan G.E Morison. Fatimi menyatakan bahwa bukti epigrafis berupa nisan yang dipercaya diimpor dari Cambay-Gujarat sebenarnya bentuk dan gayanya justru lebih mirip dengan nisan yang berasal dari Bengal. Sementara Morison lebih mempercayai bahwa islam di Indonesia bermula dari Pantai Coromandel. Sebab menurutnya pada masa Islamisasi kerajaan samudera dimana raja pertamanya (Malik Al-saleh) wafat tahun 1297 M.

Saat itu Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Baru setahun kemudian kekuasaan Islam menaklukkan Gujarat. Jika Islam berasal dari sana tentunya Islam telah menjadi agama yang mapan dan berkembang ditempat itu. Adapun bukti epigrafis dari Gujarat atau Bengal tidaklah serta merta menunjukkan bahwa agama Islam juga “diimpor” dari tempat yang sama.

Sedangkan tentang teori Islam Indonesia berasal langsung dari Makkah (yang antara lain dikemukakan oleh T.W Arnold dan Crawford) lebih didasarkan pada beberapa fakta tertulis dari beberapa pengembara Cina sekitar abad ke-7 M, dimana kala itu kekuatan Islam telah menjadi dominan dalam perdagangan Barat-Timur, Bahwa ternyata dipesisir pantai Sumatera telah ada komunitas Muslim yang terdiri dari pedagang asal Arab yang diantaranya melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan local. Terdapat juga sebuah kitab ‘Aja’ib al-Hind yang ditulis al-Ramhurmuzi sekitar tahun 1000 M. Dikatakan bahwa para pedagang Muslim telah banyak berkunjung kala itu ke kerajaan Sriwijaya. Dan di wilayah itupun telah tumbuh komunitas Muslim local. Semantara variasi pendapat lain dikemukakan oleh Keijzer bahwa Islam nusantara berasal dari Mesir berdasar kesamaan madzhab (Shafi’i). Sedangkan Niemann dan de Hollander mengemukakan teori Islam nusantara berasal dari Hadramaut (wilayah Yaman).

Teori Persia yang dikemukakan oleh sebagian sejarawan di Indonesia tampaknya kurang popular dibanding teori-teori sebelumnya. Pada konteks ini menarik jika pendapat Naguib al-Attas seorang pendukung teori Arab dihadirkan sebagai komparasi. Dalam mengkaji Islam nusantara al-Attas lebih tertarik untuk mendasarkan argumentasinya pada bukti-bukti konseptual dan liberatur, dibanding bukti-bukti sebagaimana para pemikir sebelumnya. Dalam “Teori umum tentang Islamisasi nusantara”-nya tersebut al-Attas menyebutkan bahwa karasteristik internal Islam yang beredar di nusantara lebih cenderung berasal langsung dari Arab. Dari berbagai liberatur Islam yang beredar dinusantara sebelum abad ke-17 M, tak satupun pengarangnya adalah orang India. Bahkan sebagian penulis yang dipercaya beberapa sarjana Barat sebagaian berasal dari India atau Persia. Jika ditelisik ternyata berasal dari Arab baik Etnis maupun Kultural. Adapum mengenai bukti epigrafis Moquette, al-Attas menolaknya dan menyatakan bahwa kemunculan nisan-nisan dari India tersebut hanya Karena faktor kedekatan lokasi saja (dalam konteks perdagangan).

Selanjutnya tentang proses islamisasi di nusantara,menarik untuk diperhatikan beberapa pendapat berikut:pertama,teori perkawinan.Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa kesuksesan islamisasi di nusantara lebih karena peran para pedagang muslim.Digambarkan,bahwa seraya berdagang mereka juga menyebarkan islam.diantaranya dengan cara melakukan perkawinan dengan perempuan lokal sehingga terjadi konversi agama dan terbentuklah lokus-lokus komunitas muslim setempat.Selanjutnya,mereka juga berusaha menikahi perempuan bangsawan dengan harapan anak keturunannya akan beroleh kekuasaan politik yang akan dapat diperolehkekuasaan politik yang dapat dipakai untuk menyebarkan agama islam.segaris dengan pemikiran ini,J.C van Leur mengemukakan adanya motif ekonomi dan politik dalam persoalan konversi penduduk atau penguasa lokal di nusantara.Menurutny,penguasa pribumi yang ingin masuk dan berkembang dalam perdagangan internasional kala itu yang terbentang dari laut merah hingga laut cina akan cenderung menerima islam karena dominasi kekuatan muslim di sektor itu.disamping pula untuk membentengi diri dari jejaring kekuasaan majapahit.

Teori ini dikritik oleh A.H Johns,yang menurutnya,patut niragukan bahwa para pedagang akan mampu meng-islam-kan penduduk lokal dalam jumlah yang signifikan.bukankah ditengaraibahwa mereka telah hadir sejak abad ke-7 atau ke-8M di nusantara,tetapi nyatanya,islamisasi yang signifikan justru tampil dsekitar abad ke-12M.Johns lalu mengajukan teori sufi-nya.menurutnya,islamisasi di nusantara sukses lebih didorong oleh peran para sufi pengembara yang memang orientasi hidupnya diabadikan untuk penyebaran agama islam.dan para masa-masa massifikasi konversi islam itulah para sufi banyak hadir di nusantara.Johns dalam mengelaborisasi teorinya juga mengambil pemikiran tentang cara perkawinan dangan keturunan penguasa lokal sebagai pendukung proses islamisasi.adapun pendapat lain yang dikemukakan oleh Schrieke bahwa faktor pendorong yang menimbulkan gelombang besar masuk islam di nusantara adalah ancaman kekuasan kolonial dan misi gospel kristen yang agresif tampaknya sulit diterima,karena dalam sejarah tercatat bahwa bangsa barat kristen tiba di nusantara baru sekitar tahun 1500-an.sementara islamisasi di nusantara telah berlangsung secara signifikan jauh sebelumnya yakni sejak abad ke-12 atau ke-13 M.

Akhirnya mari disimak beberapa kesimpulan yang dikemukakan oleh Azyumardi Azra berikut ini:”pertama,islam dibawa langsung dari arabia;kedua,islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar “profesional”-yakni mereka yang memang secara khusus bermaksud menyebarkan islam;ketiga,yan mula-mula masukislam adalah para penguasa;dan keempat,kebanyakan para penyebar islam “profesional”ini datang ke nusantara pada abad ke-12 dan ke-13.”jadi dengan mempertimbangkan berbagai uraian diatas,dapat dinyatakan bahwa mungkin benar islam memang telah diperkenalkan awal mula sejak abad-abad pertama hijriyah(sekitar abad ke-7 M, namun akselerasi persebaran islam secara nyata baru terjadi sekitar abad ke-12 M dan masa-masa selanjutnya.

2. Fase Disintregasi
Jika menengok sejarah agama-agama, dengan mudah akan dapat diketemukan fakta yang menunjukkan bahwa banyak agama mengalami persebaran hingga keluar jauh dari wilayah asal pertumbuhannya. Bahkan tak jarang, suatu agama justru dapat berkembang dengan jumlah pengikut yang lebih besar di wilayah lain di luar wilayah asalnya. Proses persebaran ini, seperti dituturkan Park dapat mengambil pola-pola sebagai berikut:
Pertama, ekspansi, baik melalui kontak langsung (contagious) maupun hirarkis (hierarchical); Kedua, pola relokasi. Bersamaan dengan aliran persebaran tersebut, terjadilah proses perubahan dari segi pemahaman maupun praktek yang menunjukkan perbedaan karena faktor lokalitas dan tokohnya. Artinya, banyak agama mengalami perubahan dari aslinya ketika berkembang di wilayah lain. Faktor budaya dan kebiasaan lokal kerap memberi pengaruh terhadap bentuk kepercayaan dan perilaku keberagamaan sehingga muncul fenomena aliran-aliran. Fenomena ini tak terkecuali berlangsung juga dalam tradisi dan komunitas muslim. Untuk memotret hal ini menarik dicermati ulasan Harun Nasution yang menyebutkan bahwa dinamika kesejarahan Islam secara garis besar dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) periode besar perkembangan: (1) klasik; (2) pertengahan; dan (3) modern.
Pada periode klasik (650-1250 M), Islam mengalami dua fase penting: (1) Fase ekspansi, integrasi dan puncak kemajuan (650-1000 M). Di fase inilah Islam di bawah kepemimpinan para khalifah mengalami perluasan pengaruh yang sangat signifikan, kearah Barat melalui Afrika Utara Islam mencapai Spanyol dan kearah Timur melalui Persia Islam sampai ke India. Masa ini juga ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan (di bidang agama maupun non agama) dan kebudayaan. Dalam bidang hukum dikenal para imam mazhab seperti Malik, Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ibn Hanbal. Di bidang teologi dikenal tokoh-tokoh seperti Abu Hasan al-Asy’ari, al-Maturidi, Wasil ibn Atha’ al-Mu’tazili, Abu al-Huzail, al-Nazzam dan al-Juba’i. Di bidang ketasawwufan dikenal Dzunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, al-Hallaj dan lainnya lagi. Sementara dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan kita mengenal al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Miskawaih, Ibn al-Haytsam, Ibn Hayyan, al-Khawarizmi, al-Mas’udi dan al-Razi; (2) Fase disintegrasi (1000-1250 M) yang ditandai dengan perpecahan dan kemunduran politik umat Islam hingga berpuncak pada terenggutnya Baghdad oleh bala tentara Hulagu di tahun 1258 M.
Periode pertengahan (1250-1800 M) dapat dibaca juga dalam dua fase penting: (1) Fase kemunduran (1250-1500 M) yang penuh diwarnai perselisihan yang terus meningkat dengan sentiman mazhabiyah (antara Sunni dan Syi’ah) maupun sentimen etnis (antara Arab dan Persia). Pada masa inilah dunia Islam terbelah yang kemudian diperparah dengan meluasnya pandangan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Sementara perhatian terhadap dunia ilmu pengetahuan melemah, kekuatan Kristen (dimana Perang Salib telah dimaklumatkan oleh Paus Urbanus II sejak dalam Konsili Clermont tahun 1095 M) justru kian menekan dunia Islam; (2) Fase tiga kerajaan besar (1500-1800 M). Yang dimaksud disini adalah kerajaan Usmani (Ottoman Empire) di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Pada masa kejayaannya, masing-masing kerajaan ini memiliki keunggulan khas di bidang literatur dan arsitektur sebagaimana terlihat melalui keindahan masjid-masjid dan bangunan lainnya yang lahir ketika itu. Sedangkan perhatian pada riset ilmu pengetahuan masih terbilang sangat kurang sehingga turut memberi kontribusi pada menurunnya kekuatan militer sekaligus politik umat Islam. Sisi lain, dunia Kristen dengan kekayaan yang terus berlimpah yang diangkut dari Amerika dan Timur Jauh semakin maju baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan kekuatan militernya. Maka sejarah akhirnya mencatat, kerajaan Usmani terpukul kalah di wilayah Eropa, kerajaan Safawi terdesak oleh suku-suku Afghan, dan kerajaan Mughal kian mengkerut ditekan raja-raja India. Puncaknya, Mesir sebagai salah satu simbol dan pusat peradaban Islam ketika itu runtuh di bawah penaklukan Napoleon di tahun 1798 M.
Periode modern (1800 M dan seterusnya) dikenal sebagai era kebangkitan kembali umat Islam. Kekalahan demi kakalahan tampaknya mulai menyadarkan dunia Islam bahwa dunia Barat telah mengalami kemajuan sedemikian tinggi yang takkan mungkin terlawan dengan mengandalkan kekuatan di berbagai aspeknya yang berada dalam keadaan lemah ketika itu. Dari sinilah muncul ide-ide pembaharuan yang bermaksud merekonstruksi keadaan dan kualitas umat Islam sehingga memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi ekspansi militer, politik imperialis, dan juga peradaban kolonial Barat yang semakin massif.

C. TOKOH-TOKOH YANG BERPRESTASI DALAM PERKEMBANGANISLAM
PADA PERIODE KLASIK

1. Al-Kindi
Lahir dikufan tahun 801 M. Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabbah bin Imron bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’as bin Qais al-Kindi. Al-Kindi dikenal sebagai filsuf muslim pertama. Karena dia adalah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Selain menterjemahkan al-Kindi juga menyimpulkan karya-karya filsafat hetenisme. Ia dikenal sebagai pemikir muslim pertama yang menyelaraskan filsafat dan agama. Karya al-Kindi kurang lebih berjumlah 270 buah. Kebanyakan berupa risalah-risalah pendek dan banyak yang sudah tidak ditemukan lagi.

2. Al-Farabi
Lahir di Farab pada tahun 870 M. Nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin Thurkan bin Uzlag al-Farabi. Dia terkenal dengan julukan Al-Mu’allim Al-Tsani (Guru kedua). Dua karya yang termashur adlah Al-jam;u Baina Ra’yi Al-Hakimaini dan Uyun Al-Masail. Al-Farabi menguasai hampir 10 bahasa dan mampu menguasai berbagai cabang keilmuan.

3. Al-Razi
Al-Razi adalah seorang dokter dan filosof besar pada zamannya. Ia lahir di Ray tahun 865 M. Ia pernah menulis dalam setahun lebih dari 20.000 lembar kertas. Karya al-Razi mencapai 232 buku atau risalah karya tulisnya terbesar adalah al-Hawi, sebuah ensiklopedia kedokteran yang berjumlah 20 jilid, buk ini mengandung ilmu kedokteran Yunani, Arab dan Suriah. Ia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak.

4. Ibnu Sina
Nama asli Abu al Hussain bin Abdullah lahir dikota Afsyanah Bukhara tahun 980 M. Profesinya dibidang kedokteran dimulai usia 17 tahun, ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansyur, salah seorang penguasa dinasti Samaniyah. Pada masa dinasti Hamdani ia dua kali menjadi menteri. Di bidang filsafat ia digelari asy-Syaikh ar Ra’is (Guru para raja). Karyanya tidak kurang dari 200 karya tulis.

5. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi
Karyanya berjudul “Muktasar f’Hisab Al-jabiwa Al Muqabalah” di Bagdad. Buku tersebut dirujuk Robert Chester diterjemahkan dalam bahasa latin dengan judul “Liber al-Gebras ef Al-Murcabala”. Ia adalah ilmuwan matematika yang menyusun buku tentang aljabar dan menemukan angka nol.

6. Ibnu Maskawaih
Lahir tahun 941 M dan meninggal tahun 1030 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin Muskawaih. Ia pernah mengabdi kepada dua menteri pada masa dinasti Buwaihiyah. Ibnu Muskawaih merupakan seorang pemikir muslim yang produktif

7. Al-Gozali
Lahir di Gazalah Kurhasan tahun 1058 M dan wafat tahun 1111 M. Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Rusi al-Gozali. Karena bakatnya di al-Gozali diangkat sebagai asisten yang menggantikan al-Jawaini mengajar jika ia berhalangan hadir. Ia menulis hamper 100 buku tentang teologi, fiqih, tasawuf, filsafat, akhlak dan autobiografi dalam bahasa Arab dan Persia.

KEMAJUAN DI BIDANG ILMU AGAMA
a. Bidang ilmu Tafsir
Misalnya : Imam Sufyan bin Uyainah wakil al-Jarrah, Syuban al-Hajjaj dan Zaib bin Harun. Mereka merupakan perintis dan Abu Jaf;ar Muhammad af-Rabari dianggap sebagai pemula dari semua ahli tafsir sesudahnya.
b. Bidang ilmu Fiqih
Pada periode ini ditandai dengan adanya empat Imam Mazhab yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Hambali
c. Bidang ilmu Tasawuf
Ditandai dengan peralihan dari tasawuf ke Zuhud
Tokoh Tasawuf filsafat :
1. Zumun al-Misri
2. Abu Yazid Al-Bistani
Tokoh Tasawuf Suni :
1. Abu Qasim Al-Qusyairi
2. Hamid Al-Gozali
d. Bidang ilmu kalam
Aliran-aliran yang ada : Kawarij, Mujiah, dan Mutazilah. Pada masa ini lahirlahdua aliran baru yaitu Asy’ariyah dan Maturidiyah.
e. Bidang Farikh (Sejarah)
Penulis sejarah pertama kali adalah Muhammad bin Ishak

f. Bidang ilmu Hadist
Berkembang pada periode kelima dan keenam

Abu Jaffar Al-Mnasyur
1. Membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan
a. Menterjemahkan buku yang berbahasa asing ke bahasa Arab
b. Menyusun buku-buku agama
c. Mnedatangkan kaum cerdik pandai dari berbagai Negara
2 Membangun kanal-kanal dan irigasi-irigasi
3 Membangun dan mendirikan kota Bagdad
4 Membangun Masjid agumg dan Istana yang megah
5 Membangun kota satelit yaitu Rushafah dan Kharakh

Tokoh-tokoh ilmu pengetahuan yang lahir seperti :
1. Dalam bidang Astronomi : Abu Wafa’, Ali Ibnu Younis, Al-Burun, Al-Battani
2. Dalam bidang ilmu pasti : Muhammad bin Ahmad, Ummar al-Kayyam
3. Dalam bidang ilmu kimia : Abu Bakar Al-Razi, Abu Musa Ya;far Al-Kafi
4. Dalam bidang kedokteran : Abu Bakar Al-Razi, Ibnu Sina, Abulcassis, Ibnu Rusyid

E. HIKMAH-HIKMAH YANG DAPAT DIAMBIL
1. Kita dapat meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para Khalifah
pada zaman keemasan tersebut
2. Kita dapat mengambil berbagai tauladan dari para Khalifah
3. Dapat menumbuhkan semangat kepedulian social
4. Kita dapat memahami dan menghayati sejarah kebudayaan Islam atau dijadikan pandangan hidup dalam kegiatan sehari –hari
5. Membentuk nilai melalui pengambilan hikmah dikehidupan sehari-hari
6. meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT